sugeng Rawuh di blog saya ini. semoga dapat menfaat n inspirasi dari tulisan2 ini. yang penting semuanya ku lakukan dengan senang hati. yup...!!! seperti kecintaan ku pada Psikologi dan hobby yang ku geluti. ngutip kata2 bijak dari om Albert Einstein; "Hanya mereka yang bekerja dengan hati yang dapat memberi inspirasi" sekali lagi... met membaca aja. nuwun
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Desember 2010
Sugesti dalam pespektif Islam
Kita hampir tidak menyadari seberapa besar kita bergantung pada sugesti dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membentuk opini kita tentang orang lain. Pujian atau celaan orang lain yang sampai ketelinga kita segera tampak oleh kita sebagai suatu kebenaran. Hanya sedikit saja orang di dunia ini orang yang dapat menolak sugesti yang semestinya kepada dirinya dari orang lain, meski mereka tidak mengetahui fakta-fakta itu sendiri. Kita mungkin akan berprasangka terhadap seseorang yang belum pernah kita lihat, tak pernah kita kenal, hanya karena apa yang dikatakan oleh orang lain tetangnya. Yamg paling menarik adalah kita sering meragukan pujian dan cenderung mempercayai celaan. Hal ini terjadi karena pengalaman kita membuat kita pesimistia.
Ketika menimbang psikologi massa, kita melihat betapa sering irang-orang besar yang benar-benar telah bekerja untuk pertisipannya, dalam kapasitas apa pun, merasa tidak suka tatkala ada orang berbicara menetang mereka. Pada saat ini, ketika kehidupan di dunia bersifat otomatis dan kita semua bergantung pada apa yang dikatakan surat kabar; kita secara kolektif mengubah opini kita terhadap orang lain, hanya mendapat sanjungan dan kita juga tidak banyak mengretahui mengapa seseorang disalahkan. (Inayat Khan, 2001)
Rabu, 10 November 2010
SUMBANGAN TEORI HUMANISTIK TERHADAP PENDIDIKAN
Dalam dunia pendidikan mempunyai dua stream utama, yang pertama mengfokuskan pada peranan pendidikandalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa (disebut direct Instruction) dan yang kedua menfokuskan pada keluaran afektif, yaitu belajar tetang bagaimana belajar dan meningkatkan kreatifitas dan potensi manusia (Gerakan Humanistic Education), yang dominant di Amerika di awal tahun 1970-an.
Gerakan pendidikan humanistic merupakan penerus gerakan pendidikan progresifnya John Dewey tahun 1920-1930, yang merupakan gerakan reaksi terhadap penggunaan drill dan rate learning berlebihan dari sekolah tradisional. Hal penting pada dunia pendidikan humanistic adalah siswa harus mempunyai substantial hand dalam mengarahkan diri mereka, memilih apa yang akan dipelajari, sampai taraf mana ia belajar, kapan dan bagaimana ia belajar. Gagasan tersebut dimaksudkan agar siswa memiliki self direct, self motived dan bukan sebagai penerima pasif informasi.
Pendidikan humanistic menyentuh tujuan afektif sebanyak tujuan kognitif. Untuk mencapai tujuan afektif misalnya, Glasser dan Lefkowitz menyelenggarakan class meeting untuk mendiskusikan problem-problem interpersonal, nilai-nilai seperti; tenggang rasa, kerja sama, kejujuran, saling menghormati, dsb. Pendidikan humanistic menolak kenaikan kelas, menolak memberikan nilai pada tes-tes standart, melaikan dengan evaluasi tertulis terhadap pemecahan masalah (problem solving) atau melakukan kegiatan eksperimen.
Kamis, 14 Oktober 2010
Psikologi Jawa
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Usaha untuk memahami manusia, terus menurus dilakukan. Maka dari itulah muncul mahdzab-mahdzab Psikologi. Teori-teori Psikologi kontemporer untuk menjelaskan fenomena tersebut juga masih memiliki kekurangan, karena Sosio-cultural masyarakat memiliki ke-khas-an tersendiri di setiap bangsa. Psikologi jawa adalah kawruh jiwa yang mengungkapkan bagaimana orang jawa menjelaskan kehidupan jiwa. Psikologi jawa sebagai Psikologi indigenous; kiranya dapat menjelaskan.
Di tengah maraknya minat mengkaji dunia Timur, dan runtuhnya Grand Theories, usaha eksplisitasi ajaran Kawruh Jiwa 6-Sa Soerjomentaram:
Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Sakepenake, Samestine, Sabenere; menawarkan perspektif baru dan unik, untuk lebih jauh memahami jiwa manusia, sekaligus mendialogkannya dengan ilmu jiwa “modern” dalam bahasa yang kompatibel. Kalapun itu dianggap terlalu muluk, paling tidak kita bisa berharap psikologi ini dapat lebih tepat untuk memahami orang jawa.
Telaah kritisterhadap Ilmu Jiwa Kramadangsa ini tidak lepas dari padangan kritis terhadap psikologi “resmi” yang hidup dikalangan masyarakat psikologi di Indonesia. Karena gejala metodolatri dengan teknik-teknik analisis yang canggih menjadi sangat kuat, sementara upaya untuk memahami orang seperti Kramalaya dan Kramadangsa menyusut. Untuk memahami rasa Kramadangsa seorang psikolog lebih senang mempercayakan diri pada alat atau metodenya daripada kepekaan rasanya sendiri ketika berdialog dengan Kramadangsa. Tentu saja hal ini perlu dilihat dengan kacamata yang lebih jernih kelak.
Rabu, 06 Oktober 2010
Consumer Behavior
I. LATAR BELAKANG
A. PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN
Mengkonsumsi atau membeli suatu barang merupakan salah satu cara manusia dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Manusia atau konsumen, dalam memutuskan akan mengkonsumsi atau membeli suatu barang atau menggunakan suatu jasa pasti memiliki suatu motif yang menyebabkan dia akan membeli atau menggunakan barang atau jasa tersebut. Selain itu, dalam membeli atau menggunakan barang atau jasa itupula dipengaruhi oleh sikap konsumen terhadap barang atau jasa yang bersangkutan. Cara seorang konsumen dalam memutuskan akan membeli, menggunakan, mengkonsumsi suatu barang atau jasa bisa dikatakan sebagai suatu prilaku yang nampak ( overt behaviour). Yang selanjutnya dikatakan sebagai Prilaku Konsumen.
Perilaku konsumen adalah ”proses yang dilalui seseorang dalam, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya” (Schiffman dan Kanuk, 2000). Jadi dapat dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan study tentang bagaimana pembuat keputusan ( decision units), baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan membeli atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.
B. PERILAKU KONSUMEN DILIHAT DARI SEGI PSIKOLOGI
A. PENGERTIAN PERILAKU KONSUMEN
Mengkonsumsi atau membeli suatu barang merupakan salah satu cara manusia dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Manusia atau konsumen, dalam memutuskan akan mengkonsumsi atau membeli suatu barang atau menggunakan suatu jasa pasti memiliki suatu motif yang menyebabkan dia akan membeli atau menggunakan barang atau jasa tersebut. Selain itu, dalam membeli atau menggunakan barang atau jasa itupula dipengaruhi oleh sikap konsumen terhadap barang atau jasa yang bersangkutan. Cara seorang konsumen dalam memutuskan akan membeli, menggunakan, mengkonsumsi suatu barang atau jasa bisa dikatakan sebagai suatu prilaku yang nampak ( overt behaviour). Yang selanjutnya dikatakan sebagai Prilaku Konsumen.Perilaku konsumen adalah ”proses yang dilalui seseorang dalam, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya” (Schiffman dan Kanuk, 2000). Jadi dapat dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan study tentang bagaimana pembuat keputusan ( decision units), baik individu, kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-keputusan membeli atau melakukan transaksi pembelian suatu produk dan mengkonsumsinya.
B. PERILAKU KONSUMEN DILIHAT DARI SEGI PSIKOLOGI
Sabtu, 02 Oktober 2010
Jurnal Psikologi
PERBEDAAN PRASANGKA TERHADAP KELOMPOK SISWA SEKOLAH LAIN DAN KONFORMITAS PADA KELOMPOK TEMAN SEBAYA ANTARA SISWA YANG TERLIBAT DENGAN YANG TIDAK
TERLIBAT TAWURAN DI SMK ”X” KOTA SEMARANG
TERLIBAT TAWURAN DI SMK ”X” KOTA SEMARANG
Singgih Kurniawan
Universitas Islam Sultan Agung
Universitas Islam Sultan Agung
ABSTRAK
Tawuran atau perkelahian antarpelajar yang banyak kita lihat bisa saja merupakan fenomena laten, yang suatu saat bisa muncul kapan, dimana dan tiba-tiba dan kita tidak bisa mengetahui hal tersebut. Ironisnya, sebagian di antara pelajar yang terlibat mengaku tak tahu-menahu ikhwal permasalahan tawuran. Adanya rasa bermusuhan yang diwariskan secara turun menurun menurun dari angkatan ke angkatan berikutnya. Menanamkan bahwa kelompok siswa sekolah lain tersebut merupakan musuh bebuyutan. Tekanan dalam kelompok sebagai bentuk solidaritas juga membawa pengaruh.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empirik perbedaan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain dan konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat di Kota Semarang. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Independent Sample T-test. Teknik pengembilan sample menggunakan teknik cluster random sampling. Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan skala prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain dan skala konformitas pada kelompok teman sebaya.
Hasil uji hipotesis prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 4,897 dengan p = 0,000 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang sangat signifikan prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat. Siswa yang terlibat tawuran memiliki prasangka terhadap kelompok siswa sekolah lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat tawuran. Untuk konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat diperoleh t = 1,882 dengan p = 0,063 (p>0,05). Selanjutnya dikarenakan penelitian ini sudah mengarah pada satu titik, maka disarankan untuk menghitung one-tailed probability dengan cara membagi dua skor probabilitas two-tailed. skor probabilitas one-tailed pada penelitian ini adalah sebesar p = 0,0315 (p < 0,05). Ini berarti ada perbedaan yang signifikan konformitas pada kelompok teman sebaya antara siswa yang terlibat dengan yang tidak terlibat. Siswa yang terlibat tawuran memiliki konformitas pada kelompok teman sebaya lebih tinggi dari pada siswa yang tidak terlibat tawuran.
Kata kunci: Prasangka terhadap kelompok, Konformitas dan teman sebaya
Selasa, 21 September 2010
SEPUTAR HIPNOTIS
Sekedar numpahin uneg-uneg aja seputar hipnotis. Ikut urun rembug aja, saat ini justru terjadi sedikit kerancuan di masyarakat kita. Blow up media memang tidak bisa kita hindari; sehingga menciptakan streotype bahwa hipnotis adalah keadaan dimana kita yang di kendalikan. Apa lagi sekarang marak pemberitaan kejahatan dengan modus hipnotis. Lengkap sudah, maka ada sebagian yang menganggap bahwa hipnotis itu haram. Mara kita urai benag kusut ini.Pertama, hipnotis dapat mengedalikan orang. Ada sebuah acara di sebuah televisi swasta (nggak usah disebut pasti udah tahukan...?), yang melakukan hipnotis kemudian si subyek di ajak ngobrol and bicara terus terang alias jujur. Padahal nggak sedikit masalah itu bersifat pribadi. Kadang aku juga berpikir, kenapa para kuroptor itu di hipnotis, lalu bicara terus terang semua akan bereskan? Hehehe.
Kalau nggak salah waktu acara Ceriwis di Trans TV, yang diliput adalah Romy Rafael, kemudian salah satu host bertanya: ”...itu yang di tv, orang yang dihipnotis lalu bisa bicara jujur tu gimana..?”
AADC (AWAS ADA COPET)
Ini adalah hasil tugas laporan mata kuliah Patologi Rehabilitasi Sosial/PRS (mata kuliah pilihan). Narasumber penulis Rahasiakan, Lokasi penelitian: Semarang. Yang menarik untuk kita simak kali ini adalah bagi organisasi atau modus operasinya para copet yang terorganisir ini.Hasil lapangan yang diperoleh:
Dari penuturan narasumber kami, kerja copet adalah satu team. Copet diangkutan umum khususnya bis kota biasanya terdiri minimal 3 orang, walaupun tak menutup kemungkinan untuk bekerja sendiri. Modus yang pertama adalah dengan cara pencopet tersebut telah mengawasi ‘korban’ sebelum naik bis atau menunggu bis yang akan ditumpangi. Di sini korban tanpa sadar telah diamati. Maka pada saat naik bis, ketika akan naik pintu, salah satu copet ada yang bertugas untuk mengalihkan perhatiannya, yaitu dengan cara menghalangi atau mempersulit masuk pintu. Anggota satunya (posisinya umumnya dibelakang target) inilah yang menjadi eksekutor pengambil ‘barang’ yang akan diambil. Jika barang telah didapat, maka hasil copetan tersebut dioper/diserahkan keteman yang satunya.
FENOMENA KESURUPAN MASSAL
A. LATAR BELAKANG
Memang terasa ada yang aneh. Orang yang kesurupan bagi masyarakat Indonesia, khusunya Jawa, sebenarnya hal yang biasa. Selain dalam kesenian Jathilan, jaran kepang, reog pemainnya biasa kesurupan. Contoh yang konkritnya adalah penari jaran kepang (kuda lumping), yang ketika kesurupan kemudian melakukan tarian di luar kesadaran orang yang kesurupan. Bahkan dibanyak tempat sering dijumpai pemain kuda lumping yang makan beling, mengupas kelapa dengan mulut, dan semacamnya ketika kesurupan.
Kemudian ada pula orang yang kesurupan, lalu bisa memberikan obat bagi orang yang sakit. Bahkan untuk seperti ini orang tersebut dibuat kesurupan terlebih dahulu, kemudian entah siapa yang masuk ke dalam badan orang yang dijadikan mediator, bisa diajak dialog dan dimintai sesuatu. Misalnya saja bisa dimintai untuk menyembuhkan penyakit, menghindari diri dri bahaya, sukses dalam karir, dagang dan sebagainya. Nyaris seperti dukun atau paranormal, tetapi harus lebih dahulu kesurupan prewangan lebih dahulu.
Orang biasapun ternyata bisa kesurupan, misalnya ada yang sedang berada disuatu tempat, tiba-tiba kesurupan lalu bicara di luar kesadarannya. Ada pula yang naik gunung tiba-tiba menjadi linglung, lalu bicara sembarangan.
Yang mungkin terjadi, jangan-jangan para korban kesurupan itu sedang mengalami gejala psikologis, misalnya karena adanya tekanan yang berat (depresi) pada dirinya. Selanjutnya, pikirannya kosong dan ada sesuatu yang memasuki. Karena ada ungkapan ‘wong ngalamun kancane setan’ (orang yang suka berkhayal temanya setan). tetapi mungkin pula persoalan sosial, yang saat ini sangat berat mendera rakyat. Beban hidup yang makin berat menjadikan orang mengalami gangguan psikologis, dan kemudian terjadi kasus-kasus semacam itu.
Senin, 20 September 2010
PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI
Penyusunan Skala Psikologi (PSP) adalah salah satu mata kuliah yang penting. Jangka panjang nya adalah dalam rangka penyusunan skripsi. Apa lagi atribut psikologi tentunya tidak sembarangan dalam membuatnya. Ada kaidah-kaidah yang harus dipatuhi untuk membuat skala yang baik dan benar.
Mata kuliah yang satu ini bisa dibilang tingkat kesulitannya ”tinggi”, tapi bagi yang suka tantangan mah ini asik-asik aja. PSP ini juga membutuhkan kedisiplinan coz tugasnya berantai, dari membuat blue print hingga try out kemuadian menghitung daya beda aitem.
Nah lo..., bagi yang malas-malasan siap-siap aja untuk ketetheran. Nggak usah heran bila nanti perpus jadi rame, full bin penuh. Kita bisa liat nich kualitasnya dari sini;
Ada yang langsung menjujug membuka skripsi lalu copy paste, ada yang kebingungan mencari buku (untuk yang satu ini mah wajar)
Minggu, 19 September 2010
SEKALI LAGI TENTANG MAGIC
sebagai warming up;
tulisan pertama di blog ini ku ambil di catatan facebook ku: http://www.facebook.com/profile.php?id=1647911249#!/note.php?note_id=494953592541
yup ku tulis di Solo lagi mudik kemarin. coz di situ aku juga di suruh perform sama om buat ngsisi hiburan Halal bihalal di RTnya. hmmm...pas lagi searching cari materi perform magic ku itu, munculah ide itu, lalu ku tulis;
silahkan baca;
"Transforming Magic from 'tricks' into an EXPERIENCE..."
- menjadikan sebuah trik menjadi suatu pengalaman-
(DEMIAN A)
tiba-tiba aku pengin nulis tentang ini. g tahu napa; abiz tiba-tiba setelah membaca salah satu blog memuat hasil interview dg Demian. ada hal yang menraik yang tertulis di situ. sulap bukan hanya melulu soal trik. sulap juga butuh PSIKOLOGI.
tulisan pertama di blog ini ku ambil di catatan facebook ku: http://www.facebook.com/profile.php?id=1647911249#!/note.php?note_id=494953592541
yup ku tulis di Solo lagi mudik kemarin. coz di situ aku juga di suruh perform sama om buat ngsisi hiburan Halal bihalal di RTnya. hmmm...pas lagi searching cari materi perform magic ku itu, munculah ide itu, lalu ku tulis;
silahkan baca;
"Transforming Magic from 'tricks' into an EXPERIENCE..."
- menjadikan sebuah trik menjadi suatu pengalaman-
(DEMIAN A)
tiba-tiba aku pengin nulis tentang ini. g tahu napa; abiz tiba-tiba setelah membaca salah satu blog memuat hasil interview dg Demian. ada hal yang menraik yang tertulis di situ. sulap bukan hanya melulu soal trik. sulap juga butuh PSIKOLOGI.
Langganan:
Postingan (Atom)

